Postingan

Sebuah catatan: Pengabdian di Perbatasan Negeri Jiran

Gambar
Beberapa bulan ini selain kegiatan mengajar di dalam kelas, saya juga sedikit disibukkan dengan membantu re-akreditasi program studi ekonomi syariah. Kampus STAIN Bengkalis tempat dimana saya mengabdi sekarang ini tengah memulai proses berbenah menjadi lebih baik. Salah satu indikator baik atau kurangnya sebuah kampus bisa dilihat dari akreditasi pada setiap program studinya, sebab program studi menjadi salah satu pondasi utama dalam membangun kampus. Program studi tempat saya mengabdi sekarang ini berdiri sejak tahun 2015, yang jika dilihat sudah cukup lama untuk ukuran berdirinya program studi. Rekaman data mencatat program studi ini pernah satu kali melakukan akreditasi yaitu tepatnya pada tahun 2021. Namun, sayangnya akreditasi yang didapat pada saat itu masih “C” atau bahasa sekarang ini disebut sebagai “baik”. Dalam tingkatan akreditasi sendiri ada “unggul”, “baik sekali”, dan “baik”. Dimungkinkan pada tahun tersebut dalam kecukupan kriteria dan arsip dokumen belum tertata sedemi...

Membaca dan Menulis Ibarat Memasak

Gambar
  Membaca dan Menulis Ibarat Memasak   Saya selalu teringat wejangan dari Prof. Ngainun Naim, ‘ketika ada ide, langsung ikat melalui tulisan. Entah kapan melanjutkan dan mengambangkan ide tersebut yang penting ikat dulu. Sebab, jika ide tidak diikat dalam tulisan, dia akan kabur dan hilang’, ini yang pertama. Kedua, ‘membaca itu ibarat ngemil. Dinikmati sedikit demi sedikit namun pasti akan habis’. Wejangan atau nasihat itu selalu terlintas di pikiran saya. Memang membuat pengembangan tulisan dari sebuah ide itu tidak mudah. Namun, ketika menulis itu tidak dilakukan, ya akan hilang begitu saja skill menulisnya. Ditambah dengan malas membaca, sudah tulisan itu nanti pasti kurang enak disantap. Jika boleh saya ibaratkan menulis itu adalah proses memasak, sedangkan membaca adalah cara kita meracik bumbu masakan. Sebuah tulisan yang renyah dan enak dibaca tidak bisa terlepas dari seberapa banyak buku bacaan yang sudah dibaca dan seberapa lama kebiasaan menulisnya dilakukan. S...

Sedikit Catatan; Menjadi Manusia Ruhani Ala Imam al Ghazali

Gambar
Turos Pustaka Penyampaian materi kali ini dilakukan oleh salah satu (yang saya anggap) sebagai filsufnya Indonesia di abad 20 ini. Banyak digandrungi oleh generasi muda karena pembawaan dan penyampaian materi yang kalem namun meresap. Dr. Fahruddin Faiz. Beliau mengaku sebagai seorang yang termasuk ke dalam kelompok ‘orang awam’ yang menurut Imam Ghazali, taraf ini adalah level dimana seseorang itu beriman hanya mengikuti orang lain yang dipercayainya, seperti contohnya ulama’. Namun, menurut saya beliau ini seperti materi yang disampaikannya tentang tingkatan manusia, beliau berada ditingkat ‘arifin’ bukan hanya ‘ahli kalam’ saja, melainkan ‘arifin’. Ketika ahli kalam adalah orang yang mampu mencari dasar-dasar/dalil-dalil dalam beriman, maka Arifin adalah orang yang mampu mencari dalilnya sekaligus mengalaminya sendiri atas segala peristiwa yang menambah keimanannya. Ketika Imam al Ghazali berada pada bagian sufi ‘abid, sufi yang mendekatkan diri kepada Tuhan melalui jalan syariat,...

Krentek Ati; Kisah Ziarah Wali RI

Gambar
               Bulan April lalu saya mudik ke tanah kelahiran di Jawa Timur, tepatnya kabupaten Tulungagung kota yang terkenal dengan 1001 warung kopinya, budaya nyethe nya dan kerajinan marmernya. Tujuan mudik kali ini bukan hanya untuk merayakan hari raya Idul Fitri di kampung halaman, namun juga ada agenda lainnya yang akan dilakukan, salah satunya adalah melaksanakan walimatul usry. Ya, meskipun sudah terhitung satu tahun sejak pernikahan saya di Lampung (rumah istri), namun keinginan orang tua untuk membahagiakan dan menyiarkan kebagiaan mereka atas pernikahan putra pertamanya tetap ada. Matur nuwun sanget , ibu bapak. Saya paham akan kesunnahan untuk menyiarkan kabar gembira pernikahan seseorang ke khalayak dan keluarga besar. Untuk itu, saya yakin banyak keberkahan yang diperoleh kedua orang tua saya. Aamiin Aamiin Aamiin,              Agenda lainnya yang sudah sangat ingin saya lakukan semenjak ...

Syawal; Mulai dari Awal

 [Gambar mbah kyai Kholiq] Bulan Syawal tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya di 2022 kami merasakan lebaran pertama kali dengan status suami istri dan ini kali pertama saya berlebaran jauh dari orang tua. Tuntutan profesi menjadi salah satu alasan mengapa di tahun 2022 ini tidak ikut merayakan di kampung halaman seperti biasa. Namun, kali ini Syawal terasa indah dan sangat berbeda. Mulai dari mudik ke kampung halaman, silaturrahim ke saudara dan kolega hingga kerawuhan kyai sepuh Tulungagung di ndalem sederhana kami. Terasa luar biasa. Memang benar kata pujangga, "obat rindu itu adalah temu". Dari yang dulunya bertemu orang tua terasa biasa saja pada setiap harinya, sekarang terasa luar biasa karena menjadi moment-moment tertentu saja (haru-bahagia). Dulunya bertemu dengan dosen menjadi moment luar biasa karena menimba ilmu, sekarang menjadi sangat luar biasa. Kata para guru, letak jelasnya ilmu berada pada bersambungnya sanad ilmu antara murid dengan g...

Catatan

Gambar
Catatan. Dr. Darin Arif (Dosen dari penulis) Kanal Kajian Ngasik (Ngaji Asik) Celhs.kampusbengkalis Setiap saya mau mengisi suatu materi, entah itu perkuliahan atau acara apapun pasti mengalami "demam panggung", namanya juga belajaran (kata orang Jawa). Saya yakin semua orang juga pernah merasakan hal yang sama. Belajaran itu adalah seseorang yang masih pada tahap terus mencari ilmu, belum merasa puas akan ilmu yang telah dimiliki -ilmu = pengetahuan = maka dia merasa perlu terus untuk belajar. Karena memang pada hakikatnya sebagai manusia biasa, yang terbatas ilmu pengetahuannya, penulis dan kita semua, senantiasa perlu untuk belajar hingga akhir hayat tiba. Kita diperintahkan untuk belaja r اطلب العلم فريضةعلى كل مسلم "menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim" ااطلب العلم من المهدإلى الحد "Tuntutlah ilmu dari buaian (lahir) hingga liang lahat" Pada saat mengalami demam panggung, saya selalu teringat ibu saya, bagaimana beliau dengan tekunnya menca...

Mengawali karir sebagai seorang akademisi

Mengawali karir sebagai seorang akademisi memang harus siap dengan segala risiko yang ada di depan. Risiko pengabdian di masyarakat, pengabdian pada negara, pengabdian pada ilmu pengetahuan, risiko hidup di dearah terluar, terpencil, dan masih banyak risiko lainnya yang belum tercatat. Risiko-risiko yang disebutkan itu masih sebagian kecil dari yang ada. Meskipun menjadi akademisi penuh dengan risiko-risiko namun tetap tidak menyurutkan tekad dan minat saya menjadi akademisi. Umur yang sekarang baru berusia 27 tahun lebih 7 bulan telah mengantarkan saya menjadi seorang pengajar di salah satu kampus negeri di Indonesia. Sebelum berpindah ke kampus terluar dari wilayah Indonesia, awalnya saya mengajar di kampus yang notabanenya dekat dengan tempat tinggal saya, bahkan masih satu wilayah provinsi. Namun karena suatu hal dan sebab, saya memutuskan untuk mengambil kesempatan bergabung ke kampus di mana saya mengajar sekarang, STAIN Bengkalis. Terletak di wilayah paling luar Indonesia kampus...

Bingung, Nda Tahu Apa Yang Mau Ditulis [2]

[gambarnya orang bingung] Duh, apa yang mau ditulis? Bingung. Ya, menulis memang membutuhkan ide. Nah, apa yang disebut ide itu berasal dari sebuah inspirasi. Kemunculan inspirasi sering dipengaruhi oleh suasana sekitar yang tenang, muncul secara tiba-tiba (seperti penampakan hantu saja muncul secara tiba-tiba), mak bendhunduk‼! . Saya ambil contoh, ketika malam hari pukul 19.00 WIB anda sedang mengerjakan sebuah tulisan, isinya mengulas tentang hal A. Setelah sekian disusun perencanaan, kerangka pembahasan, dan lain sebagainya, namun berselang beberapa menit macet tulisannya. Atau, ketika disaat anda sedang menulis tentang sesuatu. Pertama, satu ketikan dua ketikan, paragraph demi paragraph tersusun, rapi sekali. Kedua, tiba-tiba macet, bingung, apa yang mau ditulis. Pernah seperti itu? Sering‼! Sudah, tidak usah mengelak, saya tahu kok anda pernah mengalaminya. Pukul 20.00 WIB tiba-tiba perut anda merasa mules ingin segera sampai ke kamar mandi. Setelah sampai, jongkok, selan...

KANJENG NABI SAW, DUNIA LAGI RAME

  Wes ra kurang-kurang sayange Kanjeng Nabi Muhammad SAW marang umate. Pokoke terus sholawat! Kanjeng Nabi Muhammad SAW kersane ngerti sampean lewat sholawat, dudu babakan boikot-boikotan. Ojo sampek ngunu kui mboikot sholawate sampean! Duh, Kanjeng Nabi SAW! Mungkin, Panjenengan sampun pirso kejadian di dunia ini seperti apa sekarang. Pasti banyak malaikat-malaikat yang membawa berita ke hadapan Rabb-Mu dan Panjenengan mengetahuinya. Sekarang tanggal 14 Rabi’ul Awal 1442 Hijriyah/31 Oktober 2020 di salah satu tempat sana (Prancis) terjadi suatu peristiwa yang membuat dunia gempar. Panjenengan digambarkan ke dalam sebuah karikatur, Kanjeng Nabi SAW . Itu yang membuat dunia ini gempar. Banyak orang umatmu mengecam perbuatan tersebut. Berbagai macam aksi penolakan dan kecaman dilakukan. Mulai dari memboikot seluruh produk dari Prancis, memfoto barang-barangnya lalu diberikan narasi boikot produk Prancis, membuat video dan bermcam lainya. Charlie Hebdo sebuah majalah di Prancis...

KOMUNIKASI DAN DIALOG ANAK

Satu perspektif. Ini diskusi.. Anak merupakan titipan dari Tuhan untuk dua orang ibu bapaknya. Ia adalah rejeki yang harus dijaga. Selain itu, ia juga harus didik dengan akhlak yang baik agar bisa meneladani semua kebaikan orang tuanya (ibu bapak). Anak memang dilahirkan oleh ibu bapaknya, namun dia hanya titipan untuk melanjutkan turunannya. Apabila baik akhlak yang dicontohkan orang tua, maka besar pula kemungkinan baik akhlak anaknya. Saya sangat tidak setuju dengan cara mendidik anak dengan kekerasan baik fisik maupun verbal. Apapun itu, tidak setuju. Saya sangat meyakini bahwa anak yang didik dengan kekerasan juga bisa berfikir melawan. "Kenapa saya dibeginikan? Kenapa tidak begini dan begini? Saya hanya ingin diperhatikan dan dimengerti", anak mungkin bisa berfikir seperti itu. Yang kita perlu tahu adalah, bahwa mereka juga manusia. Diciptakan dengan bekal yang sama dengan orang tua yang dulunya juga anak-anak. Ada panca indera, ada akal, dan ada hati. Berbicara kepa...

Ini Pertanyaan, Bagaimana Suluk Literasi Para Ulama'?

Gambar
Sekali lagi, apa resep dari kemampuan para ulama' menuliskan ratusan kitab hingga bisa menjadi bahan rujukan sampai sekarang? Saya takjub! Buku Suluk Sunan Gunung Jati Ngrekso badan agar tidak kalah dengan kemalasan adalah suatu perjuangan melawan penjajahan. Seperti melawan Nedherland yang sudah menjajah Indonesia selama 3.5 abad, lama banget, berat banget. Salah satu kemalasan yang dimaksud adalah pada literasi. Kegiatan berliterasi seperti membaca dan menulis sejatinya penting dilakukan. "..salah satu mengikat ilmu adalah dengan mengulang-ulang dan menuliskannya". Seperti yang disebutkan Imam Ghazali, "Jika kau.. bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar.. maka menulislah.." karena memang kegiatan menulis bisa membuat pemikiran yang ada pada tulisan tersebut abadi. Akan dibaca berulang-ulang oleh generasi selanjutnya, juga bisa dikutip kembali.  Saya takjub apabila teringat para ulama' yang menuliskan ratusan kitab disela kepadatan kegiatannya. Kirany...

Negara Solutip/Mereka (individu-individu) Terdepan

Lanjutan.. Menjadi kembang desa, namun juga jadi perbincangan heboh tidak benar, Dian. Sudah bersusah payah bekerja, meniti karir di luar sana, namun tiada benar di mata tetangga. Menyedihkan. "Yo ora ngono, kan yo mesake bu lurah, je. Wes dewean, uripe ngunu kui.. kan yowes wayahe to desane adewe ki nduwe lurah sing satsetsatset ngunu lo!" "Piye lek Dian wae sing dadi lurah? Pasti dadi, bapak-bapak pasti setuju". Sahut Gotrek, laki-laki supir truk di film TILIK. Menjadi kembang desa, namun juga jadi perbincangan heboh tidak benar, Dian. Sudah bersusah payah bekerja, meniti karir di luar sana, namun tiada benar di mata tetangga. Menyedihkan. Jika dilihat kembali dari cerita para ibu-ibu itu, sosok yang disebut Dian ini adalah seorang perempuan pekerja keras. "Yo ora lo, yu. Kok aku ngenthengne bandane Dian ki yo ora. Tapi, opo iyo yen kerjo bener kui jektas wae iso tuku koyo ngunu kui?" Bu Tedjo. Sejak keluar dari Sekolah Menengah Atas (SMA) diceritakan ia...

Negara Solutip Mereka (individu-individu) Terdepan

  Racavana film baru-baru ini memperoleh impact positif dari masyarakat Indonesia. Film garapannya "TILIK" yang diproduksi tahun 2018 lalu, kini sukses mewarnai timeline kolom tulisan hingga lini masa media sosial. Tunggu dulu, bukannya sudah mulai masuk ke dunia perchattingan juga? Itu lo, wassap. Beredarnya sticker karakter Bu Tedjo seakan mewarnai keseharian pengguna smartphone di negeri ini, khususnya Pulau Jawa. Nda bisa nda, nek ngeyel dicokot Bu Tedjo! Banyak dari generasi muda --tunggu, bukannya yang agak tua juga?-- menggunakan sticker karakter Bu Tedjo pada platform whatsapp. Beragam juga penggunaannya, fungsionable, seperti untuk menanggapi suatu hal/pernyataan/pertanyaan. Ada kalimat atau kata yang sering diucapkan oleh karakter Bu Tedjo ini. Contoh, misal seperti ini "Lha piye ta?" atau "Dadi wong ki mbok sing solutip", ada juga seper ini "FITNAH PIYE WONG AKEH SEKSINE". Banyak sekali yang menyoroti karakter Bu Tedjo ini, bahkan bany...

Dian adalah SugarBaby yang Solutip

Bulan Agustus tahun ini tidak seramai tahun-tahun kemarin. Tidak ada lomba maupun parade tahunan. Rasanya hampa. Anak-anak yang biasa terdengar teriakan menyemangati teman-temannya ketika lomba, sekarang nda ada. Nasib, kalian bisa berencana, namun apa daya 2020 "ehehee" membuyarkannya. Hanya saja Agustus tahun ini sedikit ada hiburan di lini masa. Mulai dari #DuniaManji&Pranoto, #IndonesiaButuhKerja, #InfluencerDapatDanaDariNegara, #KAMIuntukIndonesia hingga film lama yang naik papan tangga perfilman Indonesia. Masyarakat sedang heboh dan mengidolakan seorang perempuan paruhbaya di sebuah film pendek karya anak bangsa. Bukannya apa-apa, hanya saja karakter yang dibawakannya mengena dengan apa yang ada di masyarakat kita. Karakter yang uptodate, ceplas ceplos, tidak gentar terhadap siapapun. Tapi satu, ini kalau bukan rai gédhék ya memang thas thes wat wet. "Bayangke bu lurah wes urip dewe, kahanane ngunu kui. Desa kita iki lo wes wayahe butuh lurah sing sat set wat ...

PLAFON, IKAN, DAN AUSTRALIA

Gambar
Tanpa kemerdekaan berpikir, manusia tidak akan ada, tanpa eksistensi. Apa yang pertama kali terlintas dibenak ketika dimunculkan kata plafon, ikan, dan Australia? Mungkin bisa ditebak, plafon yang dibayangkan adalah langit-langit rumah. Ikan, bisa jadi yang muncul dibenak bermacam-macam ikan, bisa ikan mas, ikan lele di pasar, dan lain sebagainya. Sedangkan, Australia bisa jadi yang muncul adalah hewan kanguru sebagai hewan khas negara sana. Lalu, apa hubungannya semua itu? Tenang, disimak dulu cerita yang mungkin tidak lucu ini. Kopi ijo susu panas khas daerah Tulungagung tersaji di atas meja. Ditemani bermacam gorengan, udud Surya dan Surya Pro, dua kang-kang (pemuda) memperbincangkan suatu hal. Ada topik menarik dalam sesi persambatan dan pengghibahan kali ini. Dulu semasa kecil, masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah, Kakang satu ini tidak mau tidur di rumah orang tuanya sendiri. Mulai awal masuk MI hingga menginjak kelas tujuh SMP tidak tidur di rumah. Katanya tidur di rumah orang tua...

NGUTANG DAN BAYAR HUTANG SEBUAH TULISAN

Gambar
Apalagi ia hidup dalam sebuah komunitas kepenulisan yang setiap minggunya mewajibkan anggota untuk menyetor hasil tulisannya. Ada hak yang dikandungnya dan kewajiban yang harus ditunaikannya. [Anggap saja gambar bayar utang tulisan] Bangun di hari Ahad (Minggu) pagi yang teringat sebuah hutang. Pernah? Setiap orang pasti pernah bangun dari tidur yang pertama kali diingat adalah hal tersebut. Suatu masa dia ngutang (bahasa Jawa) kepada teman atau saudara, di masa yang datang dia diharuskan membayarnya. Kembali lagi, bangun tidur di hari Ahad yang sebenarnya itu adalah weekend, namun yang teringat adalah ngutang dan bayar hutang. Nda masuk? Boleh saja seperti itu, seharusnya bersyukur bahwa yang pertama kali diingat adalah kewajiban. Itu baik. Kewajiban baik itu ada dua, yaitu baik kepada Allah (Tuhan) dan baik kepada makhluk (dalam konteks ini manusia). Sebagai contoh kewajiban baik kepada Tuhan yaitu dengan mengingat segala yang telah diberikan-Nya. Sedangkan kepada makhluk, salah s...