Postingan

Ini Pertanyaan, Bagaimana Suluk Literasi Para Ulama'?

Gambar
Sekali lagi, apa resep dari kemampuan para ulama' menuliskan ratusan kitab hingga bisa menjadi bahan rujukan sampai sekarang? Saya takjub! Buku Suluk Sunan Gunung Jati Ngrekso badan agar tidak kalah dengan kemalasan adalah suatu perjuangan melawan penjajahan. Seperti melawan Nedherland yang sudah menjajah Indonesia selama 3.5 abad, lama banget, berat banget. Salah satu kemalasan yang dimaksud adalah pada literasi. Kegiatan berliterasi seperti membaca dan menulis sejatinya penting dilakukan. "..salah satu mengikat ilmu adalah dengan mengulang-ulang dan menuliskannya". Seperti yang disebutkan Imam Ghazali, "Jika kau.. bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar.. maka menulislah.." karena memang kegiatan menulis bisa membuat pemikiran yang ada pada tulisan tersebut abadi. Akan dibaca berulang-ulang oleh generasi selanjutnya, juga bisa dikutip kembali.  Saya takjub apabila teringat para ulama' yang menuliskan ratusan kitab disela kepadatan kegiatannya. Kirany...

Negara Solutip/Mereka (individu-individu) Terdepan

Lanjutan.. Menjadi kembang desa, namun juga jadi perbincangan heboh tidak benar, Dian. Sudah bersusah payah bekerja, meniti karir di luar sana, namun tiada benar di mata tetangga. Menyedihkan. "Yo ora ngono, kan yo mesake bu lurah, je. Wes dewean, uripe ngunu kui.. kan yowes wayahe to desane adewe ki nduwe lurah sing satsetsatset ngunu lo!" "Piye lek Dian wae sing dadi lurah? Pasti dadi, bapak-bapak pasti setuju". Sahut Gotrek, laki-laki supir truk di film TILIK. Menjadi kembang desa, namun juga jadi perbincangan heboh tidak benar, Dian. Sudah bersusah payah bekerja, meniti karir di luar sana, namun tiada benar di mata tetangga. Menyedihkan. Jika dilihat kembali dari cerita para ibu-ibu itu, sosok yang disebut Dian ini adalah seorang perempuan pekerja keras. "Yo ora lo, yu. Kok aku ngenthengne bandane Dian ki yo ora. Tapi, opo iyo yen kerjo bener kui jektas wae iso tuku koyo ngunu kui?" Bu Tedjo. Sejak keluar dari Sekolah Menengah Atas (SMA) diceritakan ia...

Negara Solutip Mereka (individu-individu) Terdepan

  Racavana film baru-baru ini memperoleh impact positif dari masyarakat Indonesia. Film garapannya "TILIK" yang diproduksi tahun 2018 lalu, kini sukses mewarnai timeline kolom tulisan hingga lini masa media sosial. Tunggu dulu, bukannya sudah mulai masuk ke dunia perchattingan juga? Itu lo, wassap. Beredarnya sticker karakter Bu Tedjo seakan mewarnai keseharian pengguna smartphone di negeri ini, khususnya Pulau Jawa. Nda bisa nda, nek ngeyel dicokot Bu Tedjo! Banyak dari generasi muda --tunggu, bukannya yang agak tua juga?-- menggunakan sticker karakter Bu Tedjo pada platform whatsapp. Beragam juga penggunaannya, fungsionable, seperti untuk menanggapi suatu hal/pernyataan/pertanyaan. Ada kalimat atau kata yang sering diucapkan oleh karakter Bu Tedjo ini. Contoh, misal seperti ini "Lha piye ta?" atau "Dadi wong ki mbok sing solutip", ada juga seper ini "FITNAH PIYE WONG AKEH SEKSINE". Banyak sekali yang menyoroti karakter Bu Tedjo ini, bahkan bany...

Dian adalah SugarBaby yang Solutip

Bulan Agustus tahun ini tidak seramai tahun-tahun kemarin. Tidak ada lomba maupun parade tahunan. Rasanya hampa. Anak-anak yang biasa terdengar teriakan menyemangati teman-temannya ketika lomba, sekarang nda ada. Nasib, kalian bisa berencana, namun apa daya 2020 "ehehee" membuyarkannya. Hanya saja Agustus tahun ini sedikit ada hiburan di lini masa. Mulai dari #DuniaManji&Pranoto, #IndonesiaButuhKerja, #InfluencerDapatDanaDariNegara, #KAMIuntukIndonesia hingga film lama yang naik papan tangga perfilman Indonesia. Masyarakat sedang heboh dan mengidolakan seorang perempuan paruhbaya di sebuah film pendek karya anak bangsa. Bukannya apa-apa, hanya saja karakter yang dibawakannya mengena dengan apa yang ada di masyarakat kita. Karakter yang uptodate, ceplas ceplos, tidak gentar terhadap siapapun. Tapi satu, ini kalau bukan rai gédhék ya memang thas thes wat wet. "Bayangke bu lurah wes urip dewe, kahanane ngunu kui. Desa kita iki lo wes wayahe butuh lurah sing sat set wat ...

PLAFON, IKAN, DAN AUSTRALIA

Gambar
Tanpa kemerdekaan berpikir, manusia tidak akan ada, tanpa eksistensi. Apa yang pertama kali terlintas dibenak ketika dimunculkan kata plafon, ikan, dan Australia? Mungkin bisa ditebak, plafon yang dibayangkan adalah langit-langit rumah. Ikan, bisa jadi yang muncul dibenak bermacam-macam ikan, bisa ikan mas, ikan lele di pasar, dan lain sebagainya. Sedangkan, Australia bisa jadi yang muncul adalah hewan kanguru sebagai hewan khas negara sana. Lalu, apa hubungannya semua itu? Tenang, disimak dulu cerita yang mungkin tidak lucu ini. Kopi ijo susu panas khas daerah Tulungagung tersaji di atas meja. Ditemani bermacam gorengan, udud Surya dan Surya Pro, dua kang-kang (pemuda) memperbincangkan suatu hal. Ada topik menarik dalam sesi persambatan dan pengghibahan kali ini. Dulu semasa kecil, masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah, Kakang satu ini tidak mau tidur di rumah orang tuanya sendiri. Mulai awal masuk MI hingga menginjak kelas tujuh SMP tidak tidur di rumah. Katanya tidur di rumah orang tua...